About Author

Minggu, 12 Desember 2010

Manga Fox: Tsubasa Reservoir Chronicle Manga Series

Manga Fox: Tsubasa Reservoir Chronicle Manga Series

“Mea dan Kangjeng Ratu Kidul”

Pagi ini, keluargaku sedang berkemas untuk keberangkatan menuju Parangtritis. Ayah dan kakak sedang mempersiapkan mobil sementara ibu, aku, dan Nanda mengangkat koper-koper besar berisi segala macam keperluan pribadi seperti makanan dan pakaian. Koper-koper itu dimasukkan dan disusun rapi ke dalam bagasi mobil. Namaku Mealisa Rahmadani, biasa dipanggil Mea. Umurku 13 tahun. Setelah pengumuman liburan akhir semester 1, keluargaku berjanji akan berpergian ke Parangtritis selama 2 minggu. Awalnya, ide ini berasal dari kakakku, Aziz. Ketika Ayah bertanya kepada kami ingin pergi berlibur kemana, kakakku mengusulkan agar kita pergi ke Parangtritis. Ia penasaran dengan kebenaran dari cerita Kangjeng Ratu Kidul nya itu. Dan semenjak saat itulah, kakakku belajar dengan giat dan akhirnya keinginannya dapat terkabul.


“Mea, mobilnya sudah siap. Bilang ibu agar cepat bersiap. Kita akan berangkat sekarang!”. Ayah berteriak dari depan beranda rumah sedangkan kakak sudah menunggu di depan pintu mobil. Mendengar ayah mengatakan itu, Ibu, aku, dan Nanda berjalan lebih cepat keluar rumah dan masuk ke dalam mobil. Selama perjalanan, hanya sedikit kegiatan yang dapat kulakukan. Seperti mengutak-atik handphone dan laptop kakak. Tentu saja alasannya supaya tak merasa bosan dalam perjalanan. Memakan makanan kecil yang sengaja dibawa untuk perjalanan, membaca koran milik ayah, dan tidur juga menjadi pilihan lain yang dapat kulakukan di dalam mobil.


8 jam perjalanan berlalu dan akhirnya kami telah sampai di sebuah penginapan sederhana. Bangunannya tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil. Banyak pepohonan, tanaman-tanaman sulur dalam pot, dan ada sebuah air mancur yang terdapat pada halaman depannya. Di belakang penginapan tersebut, pantai Parangtritis dapat terlihat begitu jelas seperti dari dekat. Dan pada pintu gerbang,terpasang sebuah papan kayu besar yang bertuliskan “Wisma Parangtritis”.


“Waw, ini benar-benar wisma seperti yang kuinginkan. Terima kasih, yah!”. Berulang kali kakak mengucap sederet kata itu pada Ayah, Ayah itu hanya tersenyum mengiyakan. Di dalam, aura wisma ini serasa seperti  di rumah. Memang tidak ada yang mewah baik dari segi sisi tiap wisma ataupun perabotan-perabotannya yang masih berupa kayu jati tua. Justru karena hal itu, wisma ini dapat menimbulkan kesan alami. Sederhana, namun tetap mengutamakan kualitas yang baik.


Setelah kami mendapat kamar masing-masing dan merapihkan barang-barang, kami kembali pada kegiatan masing-masing. Ayah jalan-jalan disekitar wisma bersama Ibu, kakak dan Nanda tertarik untuk memandangi pantai dari jendela kamar, sementara aku lebih memilih untuk membaca buku di ruang tengah. Hampir 2 jam aku membaca buku yang sama untuk yang kedua kalinya dan sofa yang kududuki menjadi hangat, akhirnya aku bangkit dari sofa dan pergi ke kamar untuk mengambil sisa makanan kecil dan segelas teh.


Ketika di lorong lantai 2, aku melihat seorang anak perempuan memakai terusan panjang berwarna hijau muda berdiri mematung di depan kamar kosong yang katanya kamar pembantu. Dia diam dan memandangi kamar tersebut dengan ekspresi wajah khawatir. Karena penasaran, aku pun menghampirinya dan mencoba menyapanya. “Halo.. kamu siapa ya? Ada keperluan apa”. Anak itu menoleh dan menjawab “Aku Ratna. Kamu melihat Desi tidak?”. Seketika hening, aku terdiam dan bingung. Ia tak bertanya siapa aku ataupun darimana asalku. Ia justru langsung menanyakan seseorang yang sama sekali tidak ku kenal. “Aku tak mengenalnya. Lagipula, siapa itu Desi? Kamu sendiri datang darimana?”. Tiba-tiba, ia menatapku dengan tajam dan menarikku ke dalam kamar itu. Kamar itu ukurannya tidak lebih besar dari kamar tamu, mungkin perbedaanya hanya debu tebal yang menutupi sebagian ruangan itu. “Dia dulu tinggal disini. Aku sering bermain bersamanya. Tapi karena orang itu, Desi meninggalkanku dan menghilang entah kemana!”. Ratna menggertak pada dirinya sendiri, menutup wajahnya dan menangis. Di situ aku kebingungan dan merasa kikuk dengan sikap Ratna. Karena kasihan, aku membawanya ke salah satu sudut kamar itu dan membersihkannya dari debu.


“Sebetulnya, ada masalah apa? Kenapa tiba-tiba kamu menyebut nama Desi? Apa ada hubungannya denganku?”. Dia berhenti menangis dan akhirnya berbicara. “Dulu, di tempat ini ada seorang anak bernama Desi. Dia sangat baik, sampai suatu saat ia diizinkan untuk menetap disini bersama orangtuanya bersamaku. Aku begitu senang sampai tidak menyadari kalau ternyata ada orang lain yang menyukainya”. Aku mendengarkannya dengan seksama. Ratna pun kembali melanjutkan ceritanya dan kali ini, ia mengeluarkan sebuah selembar kertas yang agak panjang dan membacanya.


“Lalu, dua minggu Desi telah menetap, aku mengajaknya ke pantai Parangtritis. Aku mengatakan padanya kita bisa puas bermain di sana. Ia pun menyetujuinya dan kami akhirnya pergi ke pantai. Di sana kami bermain air, membangun pasir, dan berjemur bersama. Benar-benar terasa sempurna pada hari itu. Aku kembali menatap laut dan terpikir sesuatu. Mungkin, aku bisa menghadiahkan Desi sebuah kalung atau gelang dari kerang untuk kami pakai berdua. Dengan begitu, Desi akan merasa senang. Tapi, entah mengapa semuanya lenyap. Hilang seketika. Aku hanya mengingat ketika aku berlari mengindar dari kejaran seorang putri berbaju hijau itu”. Sejenak, ruangan itu tenggelam dalam suasana diam. Semua orang tau bahwa seorang putri yang menggunakan baju hijau tersebut hanyalah satu, Kangjeng Ratu Kidul.


“Ketika sedang mengambil beberapa kerang-kerang kecil di pinggir pantai, aku melihat Desi meneriakkan sesuatu kepadaku. Dia memperingatkan bahwa jepit rambutku ternyata berwarna hijau dan ia menyuruhku untuk melepasnya. Aku memberitahunya bahwa jepit ini kecil, tidak terlalu terlihat dan tak perlu dikhawatirkan. Aku menertawainya dan keadaan pun kembali normal. Sampai tiba-tiba, Desi menatap kearahku dan berteriak histeris. Dibelakangku muncul gelombang yang cukup besar, aku tak sempat melarikan diri dan  hanyut ke laut.  Kata orang-orang, Desi meneriakkan namaku dan mencariku di pantai itu. Karena panik, akhirnya dia memutuskan untuk mencariku dan melaporkan kepada polisi dan orangtuaku. Pencarian dilakukan hingga malam hari dan polisi memutuskan untuk melanjutkan pencarian esok harinya. Pada suatu malam ketika Desi sedang tidur, ia bermimpi bahwa ia didatangi Kangjeng Ratu Kidul. Desi berkata padanya bahwa ia ingin aku dikembalikan. Namun, Sang ratu menolak. Desi tetap mengatakan hal yang sama berulang kali dan Sang ratu pun akhirnya menyetujuinya. Tetapi dengan syarat, malam ini Desi harus pergi ke pantai mengenakan terusan panjang berwarna hijau untuk menggantikan aku. Ratu itu akan menunggunya di salah satu gua kecil yang ada disana. Maka, Desi pun menyetujuinya dan langsung pergi ke Pantai Tersebut.


Saat pagi, aku tersadar sudah berada di pinggir pantai dan mengenakan terusan berwarna hijau dan gelang kerang di pergelangan kaki kiriku. Sesaat sadar dengan pakaianku, aku langsung pulang ke wisma sambil berlari untuk mengejar Desi. Saat pulang, aku tak melihat Desi. Wisma telah kosong, aku hanya melihat ibuku sedang mencuci piring. Ketika aku bertanya pada ibu Desi dimana, ia menjawab “Kamu pergilah ke kamar Desi. Ia ingin menemuimu..”. Disitu, aku agak takut mendengar kata-kata ibu barusan. Aku beranikan diri untuk ke kamar dan melihat kamar Desi. Ketika aku sampai di pintu kamar, aku mengetuk pintu tersebut. Tak ada yang menjawab, ku ketuk kembali pintu kamar dan akhirnya pintu itu terbuka sendiri. Di dalam, tidak ada orang sama sekali. Kamar itu telah kosong. Lalu, Aku menemukan sebuah kertas ini di meja dan membacanya. Diakhir kalimat, Desi menuliskan “Kalau kamu selamat, aku bersyukur. Terus jalani kehidupan, aku akan tetap disampingmu”. Aku langsung terduduk dan menangis histeris. Sampai pada akhirnya, aku memutuskan untuk pergi dari rumah dan..”. Belum selesai Ratna bercerita, tiba-tiba ibu pemilik wisma datang dan membuka pintu kamar pembantu tersebut. “Ratna, Kamu kemana saja selama ini? Ibu khawatir dengan kamu”. Spontan, Ratna pun bangkit dari duduknya dan pergi memeluk ibu itu. “ Ratna juga kangen ibu, tetapi Ratna ingin pergi. Sebentar saja. Ibu dan Mea mau mengantar aku ke pantai sekarang?”. Mendengar Ratna berkata demikian, ibunya pun akhirnya mengizinkan. Sedangkan aku sendiri bingung kenapa Ratna bisa tahu namaku. “Aku akan mengantarmu. Tapi, kenapa kamu bisa tahu namaku? Padahal aku belum memperkenalkan diri”. Ratna menggandeng tangan ibunya dan menengok ke arahku. “Aku bisa melihat pribadi orang dari wajahnya. Kamu akan tahu lebih jelas setelah kita ke pantai”. Aku hanya terdiam dan mengikuti ibu itu dan Ratna pergi ke Pantai.


Sesampainya disana, Ratna melihat-lihat pantai tersebut dengan tersenyum. “Pantai ini tidak berubah sejak kutinggalkan 3 tahun yang lalu”. Ibu menatapnya sambil tersenyum dan Ratna pun membalas senyumannya. Lalu, Ratna melepas tangannya dari genggaman ibu. Ia pergi ke bibir pantai dan berteriak “Aku sudah menemukannya!! Aku menemukan Desi!! Sekarang, aku sudah tenang!!”. Ratna kembali menengok kearahku dan berkata “Mea, cepat kesini aku mau bilang sesuatu”. Aku bingung, namun aku menyusulnya. “Terima kasih, kamu mau menjadi Desi untuk aku. Seorang Desi terakhir yang mau mendengarkan ceritaku ini. Aku akan pergi sekarang”. Keheningan menyelimuti kami sejenak, aku bertanya padanya. “Kamu mau pergi kemana?”. Ratna tersenyum dan kembali menjawab. “Aku akan pergi menyusul Desi. Sebenarnya, Aku sudah meninggal sejak 3 tahun peristiwa itu. Kangjeng Ratu Kidul memang membiarkan aku selamat, tapi itu hanya sementara, karena aku ingin mencari Desi. Desi kedua yang harus aku cari, sekarang berada tepat di depan mataku. Dan sekarang perjanjian telah terlunas. Aku harus ikut pergi ke tempat Desi dan menemui Kangjeng Ratu Kidul. Sekali lagi, aku mengucapkan terima kasih untuk bantuannya, Mealisa Rahmadani”. Ratna menatapku lekat dengan tersenyum tulus. Entah mengapa, Air mataku mengalir begitu saja dengan deras. Ratna menghapus air mata di pipiku dan berjalan ke bibir laut menuju laut yang lebih dalam. Waktu terasa begitu cepat berlalu, semua terasa berputar begitu cepat sampai aku tak menyadarinya. Aku baru saja mengenalnya. Namun, semua itu harus hilang dan musnah begitu saja ditelan bumi. Ibu Ratna mendampingiku dan memeluk punggungku dengan erat. Kami berdua melihat kepergian Ratna dengan perasaan yang baik. Ia dan kehidupannya yang dulu, telah melewati banyak rintangan dan menggoreskan sebuah kisah. Kisah seorang sahabat yang selalu mendampingi hidupnya, dan kisah itu akan terukir selamanya di bibir pantai Parangtritis.